Minggu, 23 November 2014

Jokowi: Saya Ingin Alihkan Subsidi BBM Ke Pemerataan

Gambar ini saya dapatkan dari Media Sosial yang beredar di tengah perdebatan BBM, saya belum tahu siapa pertama yang mengunggah, namun gambar ini bagi saya adalah gambaran yang paling tepat untuk penyesuaian harga BBM dan bagaimana mengalihkannya .

Perlu diketahui kita bukanlah penghasil BBM lagi, tak ada lagi sumber-sumber baru sumur minyak yang ditemukan, cadangan kita menipis, sementara untuk memenuhi kebutuhan BBM kita harus membeli dari luar negeri, kebijakan subsidi BBM adalah warisan kebijakan "Politik Logistik" yang di satu sisi menciptakan harga-harga murah namun tidak produktif, di sisi lain negara dibebani hutang yang amat besar. Hutang yang besar akan membebani anggaran negara di kemudian hari, sehingga anggaran tidak leluasa ditanamkan ke dalam hal-hal yang produktif, tapi habis untuk biaya belanja rutin dan membayar hutang baik bunga dan pokok hutang, saya tidak ingin Indonesia terjebak dalam pola anggaran seperti itu. Keuangan kita harus berdaulat. Dengan keuangan yang berdaulat dan tidak terjebak hutang, kita bisa memperbaiki pendidikan anak-anak bangsa kita, memperbaiki kesehatan publik mulai dari Posyandu, Puskesmas sampai Rumah Sakit besar milik Negara.

"Politik Anggaran" pemerintahan saya adalah sebagian besar kekayaan negara digunakan ke sektor-sektor produktif dan sektor pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan dan perhatian pada kesejahteraan keluarga.

Memang kenaikan harga BBM akan menaikkan harga-harga sehingga daya beli masyarakat menurun, tapi ini pengorbanan kita, daripada negara berhutang, lebih baik negara ini mulai belajar menjalani politik-ekonomi Berdikari, dan ini dilakukan secara bertahap.

Pendidikan murah, Kesehatan Murah, Transportasi Umum murah dan pelayanan publik yang serba cepat adalah tujuan bersama, bila ini terjadi maka perekonomian tumbuh cepat, rakyat bisa tambah sejahtera tapi ini proses, dan bukan sesuatu yang tiba-tiba ada.
Kita harus sabar menjalani....

Kamis, 20 November 2014

Penjelasan Jokowi Tentang Tol Laut

Program Tol Laut adalah program yang terintegrasi, bukan hanya pembangunan pelabuhan saja, tapi skup-nya amat luas, mulai dari membangun jaringan rel kereta, menyiapkan armada angkatan truk dan bus, juga percepatan wilayah yang bisa dijadikan industri, jadi ini persoalan mulai dari titik pesisir sampai mendalam ke daratan.

Sementara pengembangan industri juga harus bertanggungjawab terhadap lingkungan, menghidupkan ekonomi secara organik di tengah masyarakat, sehingga masyarakat bisa tumbuh dalam ekonomi yang sehat, mobilitas tinggi dan mampu mengembangkan kualitas hidupnya.

Kamis, 13 November 2014

Jokowi: Kita Akan Buat Kawasan Strategis Pariwisata Nasional

Dalam pengembangan agenda Poros Maritim, juga dikembangkan Pariwisata Berbasis Maritim, dimana KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) dipusatkan pada pesisir pantai yang indah dan di pulau-pulau Nusantara yang berukuran kecil. 

Akses transportasi tentunya harus mudah baik udara atau transportasi laut. Dermaga-dermaga kecil dan bandara kecil dibangun sehingga akselerasi pengembangan pariwisata bahari bisa cepat berkembang.

Bangsa ini punya Banda Neira yang merupakan segitiga karang (coral triangle) terindah di dunia atau di Pulau Komodo, di sepanjang pesisir Bali baik di selatan dan utara, di Wakatobi, di Raja Ampat,di Mentawai atau Sabang yang indah itu. 

Dengan mengembangkan pariwisata bahari, kita juga menjaga kehidupan bawah laut, menjaga terumbu-terumbu karang, spesies ikan laut yang indah.

Kembalilah ke laut, disana ada keindahan, disana ada kekayaan bangsa kita.

Jumat, 22 Agustus 2014

Apa Gunanya Tertib Catatan Harian? Manfaat Jurnal Kerja harian Pegawai SKPD



Hari ini saya bersama seorang sahabat meneruskan tugas sebagai  tindak lanjut dari kerjasama dengan pemerintah di salah satu kabupaten di Jawa Timur, yakni Evaluasi Kinerja SKPD. Beberapa indikator disusun untuk memberikan penilaian kerja para PNS dan honorer di seluruh SKPD. Salah satu indicator itu adalah Jurnal kerja. Ya, semua pegawai harus memiliki jurnal kerja harian.