Jumat, 22 Agustus 2014

Apa Gunanya Tertib Catatan Harian? Manfaat Jurnal Kerja harian Pegawai SKPD



Hari ini saya bersama seorang sahabat meneruskan tugas sebagai  tindak lanjut dari kerjasama dengan pemerintah di salah satu kabupaten di Jawa Timur, yakni Evaluasi Kinerja SKPD. Beberapa indikator disusun untuk memberikan penilaian kerja para PNS dan honorer di seluruh SKPD. Salah satu indicator itu adalah Jurnal kerja. Ya, semua pegawai harus memiliki jurnal kerja harian.


Dari beberapa SKPD yang dikunjungi, sebagian besar memang belum menjalankan jurnal kerja - atau lebih mudah kita sebut catatan harian saja. Buku catatan harian ini telah dibagikan kepada seluruh pegawai di semua SKPD, baik yang PNS maupun honorer. Namun temuan di lapangan pada periode April, Mei dan juni 2014 ini tidak banyak personil pegawai yang sudah mengisi buku catatan harian ini dengan baik dan tertib.

Tidak hanya pegawai, bahkan pimpinan SKPD juga belum memberikan dukungan dan kontroling agar semua pegawai melaksanakan tugas pencatatan harian tentang aktifitas yang dikerjakan. Banyak yang berdalih toh perkerjaan sesuai program kerja telah dijalankan. “Yang terpenting adalah program kita dapat berjalan, Pak” Begitu kata beberapa pimpinan SKPD.

Aalasan itu tidak salah. Melaksanakan tugas sesuai dengan program yang dijalankan adalah keharusan. Akan tetapi berdasar temuan kami di lapangan catatan harian ini menjadi penting karena beberapa alasan.
Pertama, dengan adanya catatan harian atau jurnal kerja ini pimpinan SKPD dapat melakukan kontroling terhadadap aktifitas pegawainya. Pimpinan dapat melakukan cek jurnal setiap minggu atau bulan tentang aktifitas pegawai, mana yang pekerjaannya monoton, mana yang pekerjaannya berganti-ganti, atau mana pegawai yang pekerjaannya justru diluar tupoksinya. Dengan demikian pimpinan dapat lebih mengenal aktifitas pegawainya dengan lebih baik.

Kedua, buku jurnal kerja atau catatan harian memudahkan pimpinan untuk melihat kuantitas pekerjaan pegawainya. Temuan kami di beberapa SKPD ada satu pegawai yang melaksanakan pekerjaan yang banyak dan beragam. Sementara ada juga pegawai yang tidak banyak bekerja. Hal ini disebabkan oleh banyak factor, seperti kualitas SDM pegawai it sendiri. Sebagai contoh, pegawai bagian keuangan ternyata tidak membuat sendiri pekerjaan rekap keuangannya. Ia melimpahkan pekerjaan itu kepada pegawai – sebut saja pegawai A yang lebih muda, dengan alasan ia tidak dapat mengoperasikan program Excel.

Distribusi kerja tersebut bisa jadi tidak masalah jika pegawai yang bersangkutan masih satu bagian dari bagian keuangan tersebut. Akan tetapi si A ternyata adalah bagian kebersihan di kantor itu. Ia juga mendapatkan pekerjaan lain seperti mengelola website dan menyusun SOP. Padahal penyusunan SOP harusnya di bawah kendali bagian kepegawaian atau skretaris. Saat temuan ini disampaikan kepada pimpinan SKPD, dia berdalih “Kami ingin memaksimalkan potensi kepegawaian yang ada”.

Alasan tersebut tentu kondisi yang dipaksakan. Jurnal kerja ini membantu kita melihat kuantitas kerja pegawai, jangan sampai kasus penumpukan kerja pada salah satu orang ini terus terjadi. Kita dapat melihat kuantitas kerja masing-masing pegawai, mana yang pekerjaannya overload, dan mana yang pegawai banyak kosong dari tugas. Dengan demikian kita bisa membagi atau mendistribusikan lebih merata. Ini tentu lebih berkeadilan.
Ketiga, jurnal kerja atau catatan harian pada pegawai lembaga pemerintahan menjadi sangat penting karena status pegawai negeri sipil yang mengikat berbagai konsukwensi bagi yang menyandangnya. Bekerja pada setruktur pemerintahan mempunyai tanggungjawab melaksanakan tugas dan pekerjaannya sesuai dengan legal formal dan perundang-undangan yang ada. Masing-masing bidang dan personal melaksanakan tugas dengan ikatan aturan, tupoksi, dan SOP yang ada.

Seorang pegawai negri tidak dapat berfikir “yang penting tugas selesai, atau program dijalankan”. Lebih dari itu ada berbagai aturan yang melekat seperti harus ikut apel pagi, masuk jam delapan (PNS kantor), dan pulang kerja sore dengan waktu yang telah ditentukan. Meskipun mungkin sedang “tidak ada pekerjaan”, pulang sebelum jam kerja selesai adalah tidak dibenarkan. Begitupun dengan melaksanakan jurnal kerja.

Apakah itu saja maksud Jurnal Kerja atau Catatan Harian ini?
Tidak. Catatan harian ini juga bermanfaat secara personal kepada pegawai itu sendiri. Dari catatan kerja harian ini kita dapat melakukan penilaian secara mandiri tentang berbagai aktiftas kita. Dengan demikian kita dapat melakukan evaluasi pada diri kita sendiri.

Di luar kepegawaian, siapapun kita pada dasarnya juga membutuhkan catatan harian rutinitas sehari-hari kita. Saya mempunyai seorang teman yang berprofesi sebagai penjual on line. Ia kadang mengeluh sering kehabisan BBM – istilah ketika kehabisan uang di tengah jalan. Padahal ia termasuk sukses dalam berjualan, hamper setiap hari ada order dengan jumlah yang tidak sedikit.

Ia kemudian berinisiatif membuat catatan harian berikut semua keuangan keluar masuk setiap hari. Ia terperanjat saat tahu ternyata penghasilan perbulannya lebih dari sepuluh juta setiap bulan. Penghasilan itu tentu sangat tinggi untuk seorang anak muda yang tinggal di kota kecil seperti kota Malang ini.
Delapan bulan lalu ia memulai membuat catatan harian. Hasilnya sungguh luar biasa. Ia melakukan evaluasi dan merubah beberapa pola hariannya. Kini ia menjadi salah satu penjual sukses untuk produk yang ia tekuni. Toko online-nya selalu nangkring di urutan pertama google dengan kata kunci produk yang ia jual. Dan yang terpenting, ia kini lebih berhasil ketimbang teman-temannya dalam hal pekerjaannya, termasuk saya sendiri.

Silakan memulai membuat jurnal kerja atau catatan harian ini, sesederhana apapun bentuknya. Semoga bermanfaat.

0 komentar:

Posting Komentar